Sabtu, 08 Oktober 2011

green arsitektur



Bangunan ini bisa disebut bangunan green arsitektural...

Walaupun tidak memiliki unsur hijau pada bangunan, dengan Pemilihan material yang ‘green’ atau hijau, pada material yang didapatkan langsung dari alam, namun lebih kepada material bangunan yang dalam proses mendapatkannya tidak banyak menghasilkan limbah. Selain itu material yang ‘green’ juga pada kemudahan mendapatkan material itu dalam skala lokal, yang dibentuk dengan konsep tradisional, bangunan ini jga bisa disebut green arsitektur.

Senin, 21 Maret 2011

arsitektur dan budaya

Menjawab perubahan alam budaya lewat arsitektur bangunan

World Architecture Festival 2009 hasilkan karya-karya unik
OLEH A. DADAN MUHANOA Wartawan Bisnis Indonesia
Sebuah bangunan tidak lagi hanya harus indah, kokoh, dan enak dipandang. Lebih dari itu, sebuah bangunan merupakan perwujudan imajinasi para peran-cangnya untuk menjawab tantangan dunia yang sedang menghadapi degradasi lingkungan, dan menjadi solusi masalah sosial di sekitarnya.
Jawaban dari tantangan itu sangat jelas terlihat pada karya pemenang Festival Arsitektur Dunia (World Architecture Festival/WAF) 2009 yang digelar di Barcelona, November tahun lalu. Misi panitia pada pertemuan arsitek sejagat yang digelar untuk kedua kalinya sangat jelas.
Arsitektur harus mampu menjawab berbagai perubahan lingkungan dan sosial di era ekonomi baru melalui sebuah karya bangunan.Karya yang dipilih dalam penghargaan ini setidaknya harus mempunyai desain yang kreatif, imajinatif, dan inovatif agar bisa mengurangi energi, menghemat material dan keuangan yang diperlukan untuk membuat bangunan dan kota-kota yang ramah dan bisa menekan biaya.
Bangunan yang dinobatkan sebagai Gedung Terbaik Dunia 2009 (World Building of the Year) jatuh pada sebuah proyek yang terlihat sederhana, namun tetap mempunyai cita rasa tinggi dari segi arsitektur, yaitu Mapungubwe Interpretation Centre.
Ini merupakan sebuah bangunan untuk ruang pertemuan budaya bagi warga lokal karya arsitek asal Afrika Selatan, Peter Rich.Bangunan berbentuk kubah itu didesain berupa rumah artefak dengan menggunakan bahan baku prasejarah. Bahan bangunan sepenuhnya menggunakan material alam dan benda-benda arkeologi, yang dibuat dengan tangan oleh masyarakat sekitar.
Artefak yang merupakan benda arkeologi, seperti logam, tulang, batu, gerabah, dan dedaunan atau benda alam yang dimodifikasi oleh tangan manusia menjadi barang berguna, seperti senjata tajam, peralatan rumah tangga.
Oleh Peter Rich, material itu disulap menjadi bahan baku bangunan. Keunggulan ini dinilai menjawab tantangan dunia yang tengah menghadapi degradasi lingkungan dan pemanasan global.
Kelebihan lainnya, Mapungubwe Interpretation Centre yang terletak pada pertemuan Sungai Limpopo dan Sungai Shashe Afrika Selatan ini didukung oleh sebuah program sosial yang kuat. Proses pekerjaannya melibatkan tenaga kerja dari masyarakat lokal mulai dari proses rancangan hingga konstruksi, dan tanpa menggunakan teknologi canggih atau alat-alat berat. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh arsitek atau pemilik bangunan lainnya.
Para juri menilai karya Rich tersebut sudah jauh melampaui isu dunia arsitektur itu sendiri, karena sudah menjangkau masalah-masalah sosial, ekonomi, budaya, hingga keterbatasan teknologi. Para juri juga mengagumi proses konstruksi yang murni menggunakan tangan dan alat sederhana.
Jika dibandingkan dengan produk dalam negeri, prosesnya mungkin sama dengan pembangunan candi Borobudur yang menggunakan bahan baku lokal secara gotong royong.Meskipun sederhana, karena sebagian juri melihat sebagai sebuah bangunan mirip kandang burung, namun sentuhan tangan sang arsitek membuat fungsi bangunan dan interior sebagai sebuah seni tetap menonjol.
Gedung Mapungubwe merupakan gedung terbaik kedua yang dinobatkan dalam WAF. Pada 2008 atau pertama kali digelar festival tersebut, penghargaan bergensi ini diraih oleh bangunan gedung kuliah Luigi Bocconi University di Milan yang dirancang oleh perusahaan arsitek Irlandia Grafton Architects.
Pada 2008, ada 15 kategori pemenang untuk proyek bangunan yang sudah rampung saja, meliputi di antaranya kategori rumah, bangunan kantor, sekolah, budaya, hiburan, transportasi, dan kesehatan dan gedung olah raga.
Pada 2009, panitia menambah tiga kelompok penghargaan baru untuk memperluas jangkauan, yaitu kategori interior dan fit-out (8 kategori), struktural desain (9 kategori), dan proyek masa depan atau proyek yang masih dalam tahap rancangan tetapi akan dikerjakan (8 kategori).
Total pemenang ada 40, dari masing-masing kategori. Kemudian diciutkan menjadi 15 finalis untuk memilih karya yang benar-benar terbaik di antara pemenang tersebut. Jumlah proyek yang didaftarkan tercatat sebanyak 272 karya dari 67 negara yang dihadiri 1.500 delegasi.
Arsitek Indonesia
Indonesia patut berbangga, karena ada dua karya yang ikut serta, yaitu proyek Studi-0 Cahaya rancangan Adi Pumomo dari perusahaan arsitek Mamostudio untuk kategori bangunan budaya dan proyek Heart of School karya PT Bambu untuk kategori gedung sekolah.
Pemilihan pemenang karya terbaik ditentukan oleh juri yang diketuai Raphael Vinoly dari perusahaan Rafael Vifloly Architects PC, yang beranggotakan Kengo Kuma, Farshid Moussavi, Suha Ozkan dan Matthias Sauerbruch.
"Para juri menghadapi tantangan yang sulit untuk memilih pemenang dari finalis yang sama-sama kuat. Jangkauan geografis yang luas dan kualitas desain yang sangat tinggi dari para finalis memberikan wawasan yang nyata mengenai kondisi terkini dan keragaman arsitektur global. Ini sumber inspirasi yang luar biasa," ujar Paul Finch, Direktur Program WAF.
Karya lain yang menarik adalah Arena Zagreb di Kroasia yang menjadi jawara pada kategori struktur dan desain, yang dirancang firma arsitek Upi-2m.Pemenang ditentukan dari pemilihan bahan baku dan struktur yang unik, efisien dan ramah lingkungan. SemuJa banyak rancangan finalis yang menggunakan bahan baku bambu dan menarik perhatian.
Namun, juri memilih stadion Arena Zagreb yang mempunyai desain sederhana tetapi elegan dan efisien dengan konsep struktural eksternal yang bersandar ke dalam rusuk atau kolom yang dikuatkan dengan sebuah cincin.
Pemenang Interiors Fit Out 2009 jatuh pada Amanda Levete Architects untuk proyek Corian Super-Surfaces Showroomdi Milan. Arsitek yang berbasis di London ini merancang sebuah ruangan yang sensual dan memberikan suasana yang tetap akrab dan anggun. Warna merah muda dan putih membuat ruangan tampil lebih ekspresif, kain ke dinding, rak, meja dan tempat duduk didesain untuk menciptakan interior yang sensual.
Transformasi standar produk panel yang ada, arsitek telah menunjukkan bagaimana untuk mencapai ruang kaya visual dengan materi yang ekonomis, tapi tetap mempunyai arti lebih.Arsitektur yang dihasilkan Peter Rich, dan para pemenang lainnya memang mengingatkan pada dunia bahwa persaingan global bukanlah hal paling penting ketika para arsitek bisa berbuat sesuatu yang mempunyai arti khusus di lingkungan sekitarnya.
Karya arsitektur harus bisa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat banyak, dan menjadi alat yang bisa mempertemukan arsitektur dengan masyarakat luas. "Arsitek dunia perlu memberikan pelayanan kepada masyarakat yang lebih luas untuk bisa melakukan perubahan sehingga tidak hanya 1 % dari orang-orang yang mampu memanfaatkan karya arsitek, tetapi lebih luas lagi. Itulah yang menggairahkan saya untuk terus berjuang di daerah-daerah terpencil," katanya.

arsitektur dan budaya

Arsitektur Hemat yang Melestarikan Budaya Setempat

Pernah dengar tentang frugal architecture ? Kalau diartikan secara harfiah, dalam bahasa Inggris "frugal" berarti hemat dan sederhana. Berarti gampangnya, kita bisa memahaminya sebagai arsitektur yang hemat dan sederhana. Selama ini, sebagian besar dari kita mungkin melihat bahwa karya-karya arsitektur selalu terlihat megah, identik pula dengan mahal. Tapi tidak demikian menurut arsitek Eko Prawoto.
Hari ini, arsitek asal Yogyakarta ini memberikan ceramah seputar frugal architecture, di rangkaian acara Lecture , yang masih merupakan bagian dari event Jakarta Architecture Triennale (JAT) 2009. Mengutip dari salah satu buku, Pak Eko, mengatakan bahwa frugal architecture bukan hanya diartikan hemat biaya. Ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan mengenai arsitektur yang satu ini.
Pertama, frugal architecture selalu memperhatikan lahan dan budaya di sekitarnya. Jadi, ga ada tuh , karya arsitektur yang "bermusuhan" dengan alam. Karya arsitektur yang dibangun harus menyesuaikan dengan keadaan alam sekitarnya. Jangan sampai nantinya bangunan yang didirikan malah jadi merusak alam, jadi lebih ramah lingkungan, kan ? Begitu pula dengan budaya sekitarnya. Sebelum membangun rumah atau bangunan apapun, kata Pak Eko, penting diketahui tradisi, budaya, bahkan sejarah daerah sekitar area dimana bangunan akan didirikan. Semua hal ini akan menjadi inspirasi berharga, saat mendesain bangunan.
Poin kedua adalah mengutamakan penggunaan teknologi sederhana, bahkan kalau perlu menggunakan benda-benda buatan tangan. Berkaitan dengan poin kedua ini, ada pernyataan menarik dari Pak Eko. Menurutnya, selama ini orang-orang yang hidup di negara berkembang, khususnya Indonesia, selalu menjadi konsumen dari karya-karya kreativitas negara-negara maju. Padahal Indonesia punya lebih dari 300 tradisi, yang bisa menghasilkan banyak karya kreatif.
Itu sebabnya Pak Eko sangat senang mengeksplorasi setiap budaya yang ada, saat akan membuat sebuah karya. Dia juga sering sekali menggunakan material bekas, yang bisa digunakan kembali. Kusen pintu dan jendela, daun pintu dan jendelanya sendiri, bahkan bata pun, kalau ada yang bekas pakai, tidak perlu beli yang baru. Pantesan jadi hemat, ya ?
Poin terakhir, masih berkaitan erat dengan poin sebelumnya. Frugal architecture bertujuan untuk memperkenalkan lagi bentuk-bentuk pembangunan lokal, yang menggunakan keterlibatan masyarakat dan penggunaan teknik-teknik yang sederhana. Bingung? Maksudnya, jenis arsitektur ini bertujuan untuk memperkenalkan lagi penggunaan teknik-teknik arsitektur, yang bisa dibilang sebagai bagian dari tradisi. Contoh mudahnya, anyaman bambu, yang sekarang sudah jarang ditemui apalagi digunakan, kecuali mungkin di daerah pedesaan.
Pak Eko bilang, kalau kita terus-terusan menjadi konsumen dari produk-produk teknologi canggih, lama kelamaan tenik-teknik tradisional bisa punah. Sekarang pun mungkin sudah tidak banyak orang yang bisa menganyam bambu. Padahal, menurutnya, sentuhan-sentuhan tradisional terasa personal dan unik. Emosi yang muncul dari benda-benda buatan tangan, akan lebih terasa, dibandingkan dengan benda-benda hasil teknologi canggih.
Memang sih , benda-benda buatan tangan biasanya tidak sempurna. Mungkin ada yang miring, tidak rapi, dan sebagainya. Tapi menurut arsitek yang satu ini, justru pada ketidaksempurnaan itulah terletak keunikan dan kelebihan sebuah bangunan. Oleh karena itu, seharusnya bangunan-bangunan seperti ini, mendapatkan penghargaan lebih.
Hmm , ternyata memang tidak sekedar hemat. Frugal architecture juga sangat memperhatikan lingkungan dan budaya setempat. Ga heran, biasanya karya-karya arsitektur, yang termasuk frugal architecture , memiliki sentuhan budaya, entah itu bergaya etnik Jawa, atau bergaya ala budaya daerah-daerah lainnya. Selain itu juga ramah lingkungan, salah satunya ditunjukkan dengan membuat bangunan yang punya banyak sekali bukaan, jadi ga pake AC. Pastinya juga lebih hemat karena banyak menggunakan material bekas.

arsitektur dan budaya

ARSITEKTUR KOLONIAL WARNAI BUDAYA MASYARAKAT RAJA AMPAT


Arsitektur bergaya kolonial mewarnai sebagian budaya masyarakat Raja Ampat, berupa peninggalan arkeologi seperti bangunan Gereja Eben-Haezer yang terletak di Kampung Arefi, Distrik Selat Sagawin, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua. Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Hari Suroto, di Jayapura, mengatakan, gereja yang didirikan pada 1952 itu memperlihatkan suasana khas gereja Eropa.

"Halamannya luas, ada menara dengan jendela yang tinggi dan berkisi-kisi, langit-langit, dan pintunya juga tinggi. Ini khas arsitektur kolonial," jelasnya.

Selain itu, bahan-bahan bangunan yang digunakan, struktur bangunan dan bentuk bangunan gereja ini berbeda dengan rumah asli penduduk Kampung Arefi yang berbentuk panggung berbahan lokal dengan teknik konstruksi ikat menggunakan tali rotan.

Menurut Hari, karya arsitektur Gereja Eben-Haezer dapat menjadi media untuk membaca kondisi pengalaman dan sistem nilai kebudayaan dalam masyarakat yang dialami arsitek pembangun gereja itu.

"Arsitek gereja ini Pieter Kabes dan Yeremias Soor yang adalah polisi kolonial dan berpengalaman dalam penugasan di wilayah kekuasaan Hindia Belanda," katanya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, mereka telah membawa ide-ide kolonial dalam pembangunan gereja dengan penambahan budaya dari etnis Biak yang merupakan asal daerah dari kedua arsitek gereja tersebut.

Aplikasi budaya etnis Biak pada gereja bergaya kolonial ini terlihat dari motif Teluk Gelvink atau Teluk Cenderawasih (Kabupaten Biak, Waropen dan Supiori), sebagai penghias di bagian atas pintu utama berupa bentuk sulur-suluran.

Hingga sekarang, bangunan gereja itu masih memperlihatkan bentuk aslinya, walaupun telah dilakukan renovasi pada tiang kayu bagian bawah setinggi sepuluh sentimeter karena sudah lapuk.

Pada saat ini, bangunan gereja tersebut difungsikan sebagai aula atau sebagai tempat pertemuan masyarakat setempat.

arsitektur dan budaya

Arsitektur dan perubahan kebudayaan  

Sebagaimana aspek budaya yang lain, arsitektur senantiasa berubah dan mengalami evolusi sepanjang masa. Namun demikian, terjadinya perubahan tidaklah merata pada setiap kelompok masyarakat/bangsa.

Dikotomi kebudayaan dalam Arsitektur

We may say that monuments-buildings of the grand design tradition-are built to impress either the populace with the power of the patron, or the peer group of designers and cognoscenti with the cleverness of the designer and the good taste of the patron. The folk tradition, on the other hand, is the direct and unself-conscious translation into physical form of a culture, its needs and values –as well as the desires, dreams, and passions of the people. It is the world view writ small, the “ideal” environment of a people expressed in buildings and settlements, with no designer, artist, or architect with an axe to grind (although to what extent the designer is really a form giver is a moot point). The folk tradition is much more closely related to the culture of the majority and life as it is really lived than is the grand design tradition, which represents the culture of the elite. The folk tradition also represents the bulk of the built environment. (Amos Rapoport, 1969)


Arsitektur sebagai salah satu proses dan produk budaya material, ternyata juga mengalami dikotomi sebagaimana diungkapkan oleh Amos Rapoport diatas. Budaya tinggi dalam arsitektur diwakili oleh bangunan-bangunan, seperti monumen-sebagai bangunan tradisi desain yang agung-yang merupakan representasi dari kekuasaan dan kejeniusan individual sang arsitek. Sebaliknya, budaya masyarakat merupakan ekspresi yang berhubungan dengan budaya mayoritas, tanpa adanya seorang desainer, seniman atau arsitek. Akan tetapi ”hidup” dalam masyarakat lebih dari tradisi desain yang agung yang merepresentasi budaya para elite. Budaya massa dalam arsitektur ini seringkali didefinisikan antara lain sebagai arsitektur primitif, arsitektur vernakular, architecture without architect, arsitektur tradisional, regional culture ataupun juga arsitektur pinggiran. Sedangkan budaya tinggi diwakili oleh arsitektur non-tradisional, arsitektur world culture, universal civilization.

Mainstream Akademik; Budaya Tinggi Vs Budaya Massa dalam Arsitektur

Pada mainstream akademik, dikotomi budaya dalam arsitektur ini tampak terlihat lebih jelas. Dikotomi yang meletakkan budaya massa dalam posisi marginal sampai hari ini belum juga bergeser. Hal semacam ini tidak akan terjadi jika kita mendudukkan klasifikasi budaya ini dalam porsi yang proporsional. Beberapa dikotomi dua kutub budaya ini akan lebih jelas, jika kita jabarkan satu persatu sebagai berikut:

Arsitektur vernacular dan arsitektur non-vernacular

Arsitektur vernakular sebagai representasi budaya massa seringkali disamakan dengan ”architecture without architect” yang memberi kesan bahwa arsitektur vernakular bukanlah porsi kerja seorang arsitek. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi porsi pembahasan arsitektur vernakular dalam mainstream akademik, terkecuali harus dibahas dalam suatu forum ”tersendiri”. Pun, forum-forum semacam ini belum banyak mampu memberi warna pada kurikulum pendidikan arsitektur S1 di Indonesia. Mata kuliah-mata kuliah teori dan sejarah arsitektur masih terlalu didominasi oleh arsitektur budaya tinggi dengan pengenalan ”monumen-monumen” arsitektur sepanjang sejarah. Bahkan jika kita melihat timeline yang ditawarkan mulai dari arsitektur Yunani, Romawi, hingga Post-modern, sedikit sekali yang membahas tentang arsitektur vernakular ini. Kalaupun ada, masih terbatas pada pengetahuan arsitektur nusantara, itupun didominasi oleh budaya tinggi arsitektur nusantara.

Regional culture dan universal civilization

Universal civilization yang diwakili oleh modernisme dewasa ini menumpukan harapan pada kemampuan nalar-rasional dan kemampuan mesin-teknologis yang acapkali semakin meminggirkan mereka yang tidak berada dalam arus utama ini. Regional culture dipandang sebagai sesuatu “yang lain” dan tidak “universal”. Tidak perlu kita ragukan lagi, modernisme telah menjadi warna dominan produk-produk arsitektur di abad 20-21 ini. Kota-kota besar kita didominasi bangunan-bangunan international style yang menafikan regional culture masing-masing. Dunia akademik pun seakan tidak bergeming dalam hal ini. Mainstream yang terbentuk masih saja mengekor universal civilization yang dianggap sebagai agen pembaharuan yang progresif sementara regional culture bersifat sementara.

Arsitektur tradisional dan arsitektur non-tradisional

Arsitektur tradisional yang merupakan representasi dari tradisi, nilai-nilai yang dianut, kepercayaan dalam masyarakat, dan lain-lain, sampai saat ini masih berada dalam posisi yang terpinggirkan dalam mainstream akademik. Pengetahuan tentang arsitektur tradisional masih terbatas pada produk jadi dan justru kehilangan ruh tradisionalnya sendiri ketika telah menjadi fix dan cenderung statis, bukannya sebagai ”proses hidup”. Arsitektur Jawa, misalnya yang pada perwujudannya didominasi oleh joglo sebagai budaya tinggi (=adiluhung) dan satunya lagi ”bukan joglo” yang diwakili oleh arsitektur kampung (yang sebenarnya memiliki kekayaan dan keragaman arsitektural yang tinggi dan diikuti oleh mayoritas dalam masyarakat) namun tidak banyak dikaji karena dianggap kurang ”bernilai” atau tidak adiluhung.

Sedangkan arsitektur non-tradisional yang didominasi oleh arus modernisme universal/universal civilization masih menjadi mainstream dominan dalam pendidikan S1 Arsitektur. Apalagi dengan bantuan media, baik literatur, media massa, elektronik, internet, dan lain-lain yang memudahkan kita untuk kapan saja melihat dan mengapresiasinya. Sementara media yang membahas arsitektur tradisional (baca=arsitektur nusantara) masih relatif terbatas. Bahkan sangat minim, dan itupun masih membahas arsitektur semacam joglo, tongkonan, dst yang cenderung elitis dan tidak menyentuh mayoritas masyarakat kita.

arsitektur dan budaya

. Arsitektur sebagai cerminan budaya

Arsitektur sebagai budaya material tidak hanya sekedar menyusun elemen-elemen material bangunan menjadi bangunan secara utuh, akan tetapi arsitektur juga berperan pada pembentukan ruang-ruang sosial dan simbolik, sebuah “ruang” menjadi cerminan dari perancang dan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Sebagian besar studi arsitektur hanya melihat pada bentukan arsitektur yang monumental dan formal (istana, amphiteater, dst), belum banyak yang juga mempelajari ”arsitektur rakyat”. Diantara arsitek, Bernard Rudofsky (1964) adalah seorang yang dikenal sebagai promotor dari apresiasi terhadap estetika yang asli, original, bahkan juga organis, beliau menyebutnya sebagai ”Architecture Without Architect”. Sehingga sejak 20 tahun lalu studi tentang indigenous architecture (baca= arsitektur tradisional, arsitektur rakyat, arsitektur asli masyarakat) mulai dikembangkan bekerjasama dengan para antropolog.

Studi ini tidak hanya akan terbatas pada beberapa daerah yang mempunyai budaya asli saja, akan tetapi seluruh dunia dan pada seluruh kalangan. Sebut saja Le Corbusier, seorang pelopor arsitektur modern, yang menyatakan bahwa A house is a Machine to live in, seorang yang mendobrak seluruh dunia dengan jargon fungsionalismenya (segala sesuatu akan tampak indah jika berfungsi dengan baik). Bagaimanapun ekspansifnya Le Corbu akan tetapi semuanya tidak lepas dari perilaku dan sistem sosial yang dianutnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa arsitektur tidak pernah netral, akan tetapi akan selalu berhubungan dengan pengguna, budaya, serta konstruksi sosial yang ada dalam suatu masyarakat.

Kamis, 17 Maret 2011

arsitektur dan budaya

Ciri Budaya Arsitektur ;

Karya arsitektur akan selalu mencerminkan
ciri budaya dari kelompok menusia yang
terlibat dalam proses penciptaannya.
Sekurang-kurangnya akan tercermin tata
nilai yang mereka anut. Dengan demikian
kalau kita secara cermat mengamati
sejumlah karya arsitektur suatu masyarakat
maka lambat laun akam mengenali ciri
budaya masyarakat tersebut.