Senin, 21 Maret 2011

arsitektur dan budaya

Menjawab perubahan alam budaya lewat arsitektur bangunan

World Architecture Festival 2009 hasilkan karya-karya unik
OLEH A. DADAN MUHANOA Wartawan Bisnis Indonesia
Sebuah bangunan tidak lagi hanya harus indah, kokoh, dan enak dipandang. Lebih dari itu, sebuah bangunan merupakan perwujudan imajinasi para peran-cangnya untuk menjawab tantangan dunia yang sedang menghadapi degradasi lingkungan, dan menjadi solusi masalah sosial di sekitarnya.
Jawaban dari tantangan itu sangat jelas terlihat pada karya pemenang Festival Arsitektur Dunia (World Architecture Festival/WAF) 2009 yang digelar di Barcelona, November tahun lalu. Misi panitia pada pertemuan arsitek sejagat yang digelar untuk kedua kalinya sangat jelas.
Arsitektur harus mampu menjawab berbagai perubahan lingkungan dan sosial di era ekonomi baru melalui sebuah karya bangunan.Karya yang dipilih dalam penghargaan ini setidaknya harus mempunyai desain yang kreatif, imajinatif, dan inovatif agar bisa mengurangi energi, menghemat material dan keuangan yang diperlukan untuk membuat bangunan dan kota-kota yang ramah dan bisa menekan biaya.
Bangunan yang dinobatkan sebagai Gedung Terbaik Dunia 2009 (World Building of the Year) jatuh pada sebuah proyek yang terlihat sederhana, namun tetap mempunyai cita rasa tinggi dari segi arsitektur, yaitu Mapungubwe Interpretation Centre.
Ini merupakan sebuah bangunan untuk ruang pertemuan budaya bagi warga lokal karya arsitek asal Afrika Selatan, Peter Rich.Bangunan berbentuk kubah itu didesain berupa rumah artefak dengan menggunakan bahan baku prasejarah. Bahan bangunan sepenuhnya menggunakan material alam dan benda-benda arkeologi, yang dibuat dengan tangan oleh masyarakat sekitar.
Artefak yang merupakan benda arkeologi, seperti logam, tulang, batu, gerabah, dan dedaunan atau benda alam yang dimodifikasi oleh tangan manusia menjadi barang berguna, seperti senjata tajam, peralatan rumah tangga.
Oleh Peter Rich, material itu disulap menjadi bahan baku bangunan. Keunggulan ini dinilai menjawab tantangan dunia yang tengah menghadapi degradasi lingkungan dan pemanasan global.
Kelebihan lainnya, Mapungubwe Interpretation Centre yang terletak pada pertemuan Sungai Limpopo dan Sungai Shashe Afrika Selatan ini didukung oleh sebuah program sosial yang kuat. Proses pekerjaannya melibatkan tenaga kerja dari masyarakat lokal mulai dari proses rancangan hingga konstruksi, dan tanpa menggunakan teknologi canggih atau alat-alat berat. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh arsitek atau pemilik bangunan lainnya.
Para juri menilai karya Rich tersebut sudah jauh melampaui isu dunia arsitektur itu sendiri, karena sudah menjangkau masalah-masalah sosial, ekonomi, budaya, hingga keterbatasan teknologi. Para juri juga mengagumi proses konstruksi yang murni menggunakan tangan dan alat sederhana.
Jika dibandingkan dengan produk dalam negeri, prosesnya mungkin sama dengan pembangunan candi Borobudur yang menggunakan bahan baku lokal secara gotong royong.Meskipun sederhana, karena sebagian juri melihat sebagai sebuah bangunan mirip kandang burung, namun sentuhan tangan sang arsitek membuat fungsi bangunan dan interior sebagai sebuah seni tetap menonjol.
Gedung Mapungubwe merupakan gedung terbaik kedua yang dinobatkan dalam WAF. Pada 2008 atau pertama kali digelar festival tersebut, penghargaan bergensi ini diraih oleh bangunan gedung kuliah Luigi Bocconi University di Milan yang dirancang oleh perusahaan arsitek Irlandia Grafton Architects.
Pada 2008, ada 15 kategori pemenang untuk proyek bangunan yang sudah rampung saja, meliputi di antaranya kategori rumah, bangunan kantor, sekolah, budaya, hiburan, transportasi, dan kesehatan dan gedung olah raga.
Pada 2009, panitia menambah tiga kelompok penghargaan baru untuk memperluas jangkauan, yaitu kategori interior dan fit-out (8 kategori), struktural desain (9 kategori), dan proyek masa depan atau proyek yang masih dalam tahap rancangan tetapi akan dikerjakan (8 kategori).
Total pemenang ada 40, dari masing-masing kategori. Kemudian diciutkan menjadi 15 finalis untuk memilih karya yang benar-benar terbaik di antara pemenang tersebut. Jumlah proyek yang didaftarkan tercatat sebanyak 272 karya dari 67 negara yang dihadiri 1.500 delegasi.
Arsitek Indonesia
Indonesia patut berbangga, karena ada dua karya yang ikut serta, yaitu proyek Studi-0 Cahaya rancangan Adi Pumomo dari perusahaan arsitek Mamostudio untuk kategori bangunan budaya dan proyek Heart of School karya PT Bambu untuk kategori gedung sekolah.
Pemilihan pemenang karya terbaik ditentukan oleh juri yang diketuai Raphael Vinoly dari perusahaan Rafael Vifloly Architects PC, yang beranggotakan Kengo Kuma, Farshid Moussavi, Suha Ozkan dan Matthias Sauerbruch.
"Para juri menghadapi tantangan yang sulit untuk memilih pemenang dari finalis yang sama-sama kuat. Jangkauan geografis yang luas dan kualitas desain yang sangat tinggi dari para finalis memberikan wawasan yang nyata mengenai kondisi terkini dan keragaman arsitektur global. Ini sumber inspirasi yang luar biasa," ujar Paul Finch, Direktur Program WAF.
Karya lain yang menarik adalah Arena Zagreb di Kroasia yang menjadi jawara pada kategori struktur dan desain, yang dirancang firma arsitek Upi-2m.Pemenang ditentukan dari pemilihan bahan baku dan struktur yang unik, efisien dan ramah lingkungan. SemuJa banyak rancangan finalis yang menggunakan bahan baku bambu dan menarik perhatian.
Namun, juri memilih stadion Arena Zagreb yang mempunyai desain sederhana tetapi elegan dan efisien dengan konsep struktural eksternal yang bersandar ke dalam rusuk atau kolom yang dikuatkan dengan sebuah cincin.
Pemenang Interiors Fit Out 2009 jatuh pada Amanda Levete Architects untuk proyek Corian Super-Surfaces Showroomdi Milan. Arsitek yang berbasis di London ini merancang sebuah ruangan yang sensual dan memberikan suasana yang tetap akrab dan anggun. Warna merah muda dan putih membuat ruangan tampil lebih ekspresif, kain ke dinding, rak, meja dan tempat duduk didesain untuk menciptakan interior yang sensual.
Transformasi standar produk panel yang ada, arsitek telah menunjukkan bagaimana untuk mencapai ruang kaya visual dengan materi yang ekonomis, tapi tetap mempunyai arti lebih.Arsitektur yang dihasilkan Peter Rich, dan para pemenang lainnya memang mengingatkan pada dunia bahwa persaingan global bukanlah hal paling penting ketika para arsitek bisa berbuat sesuatu yang mempunyai arti khusus di lingkungan sekitarnya.
Karya arsitektur harus bisa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat banyak, dan menjadi alat yang bisa mempertemukan arsitektur dengan masyarakat luas. "Arsitek dunia perlu memberikan pelayanan kepada masyarakat yang lebih luas untuk bisa melakukan perubahan sehingga tidak hanya 1 % dari orang-orang yang mampu memanfaatkan karya arsitek, tetapi lebih luas lagi. Itulah yang menggairahkan saya untuk terus berjuang di daerah-daerah terpencil," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar