Sabtu, 14 Januari 2012

 BAHAN BANGUNAN HEMAT ENERGI.


Arsitektur ekologis merupakan pembangunan berwawasan lingkungan, dimana memanfaatkan potensi alam semaksimal mungkin. Infolingkungan
Kualitas arsitektur biasanya sulit diukur, garis batas antara arsitektur yang bermutu dan yang tidak bermutu. Kualitas arsitektur biasanya hanya memperhatikan bentuk bangunan dan konstruksinya, tetapi mengabaikan yang dirasakan sipengguna dan kualitas hidupnya. Apakah pengguna suatu bangunan merasa tertarik.
Pola Perencanaan Eko-Arsitektur selalu memnfaatkan alam sebagai berikut :
  • Dinding, atap sebuah gedung sesuai dengan tugasnya, harus melidungi sinar panas, angin dan hujan.
  • Intensitas energi baik yang terkandung dalam bahan bangunan yang digunakan saat pembangunan harus seminal mungkin.
  • Bangunan sedapat mungkin diarahkan menurut orientasi Timur-Barat dengan bagian Utara-Selatan menerima cahaya alam tanpa kesilauan
  • Dinding suatu bangunan harus dapat memberi perlindungan terhadap panas. Daya serap panas dan tebalnya dinding sesuai dengan kebutuhan iklim/ suhu ruang di dalamnya. Bangunan yang memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa menghemat banyak energi.
Cara membangun yang menghemat energi dan bahan baku 1. Perhatian pada iklim setempat Penggunaan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim Pembangunan yang menghemat energi Orientasi terhadap sinar matahari dan angin Penyesuain pada perubahan suhu siang-malam
2. Subsitusi sumber energi yang tidak dapat diperbaharui Meminimalisasi penggunaan energi untuk alat pendingin Menghemat sumber energi yang tidak dapat diperbaharui Optimalisasi penggunaan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui saha memajukan penggunaan energi alternatif Penggunaan energi surya
3. Penggunaan bahan bangunan yang dapat dibudidayakan dan yang menghemat energi Memilih bahan bahan bangunan menurut penggunaan energi Menghemat sumber bahan mentah yang tidak dapat diperbaharui Minimalisasi penggunaan sumber bahan yang tidak dapat diperbaharui Upaya memajukan penggunaan energi alternatif Penggunaan kembali sisa-sisa bangunan (limbah)Optimalisasi bahan bangunan yang dapat dibudidayakan
4. Pembentukan peredaran yang utuh di antara peneyediaan dan pembuangan bahan bangunan, energi, dan air Gas kotor, air limbah, sampah, dihindari sejauh mungkin Menghemat sumberdaya alam (Udara, air, dan tanah)Perhatian pada bahan mentah dan sampah yang tercemar erhatian pada peredaran air bersih dan limbah air
5. Penggunaan teknologi tepat guna yang manusiawi Memanfaatkan/ mengguanakan bahan bangunan bekas pakai. Menghemat hasil produk bahan bangunan.Mudah dirawat dan dipelihara Produksi yang sesuai dengan pertukangan hipotesis Gaia
Yang paling berpengaruh dasar perencanaan arsitektur masa depan adalah Hipotesis Gaia sebagai berikut : Kehidupan bukan menciptakan lingkungan menurut kebutuhannya, dan kehidupan bukan faktor penentu, melainkan sistim keseluruhan termasuk lingkungan dan kehidupan,
Hipotesis ini kemudian dibuktikan karena organisme-organisme dan lingkungan fisik kimia dalam evolusinya yang berhubungan erat sehingga bumi papat dianggap sebagai machluk hidup, sebagai organik yang mengatur suhu, iklim dan susunan kimia. Perencanaan benda apapun yang dihasilkan melalui kecerdasan manusia adalah bagian mikrokosmos. Cara kehidupan manusia sangat erat kaitannya dengan kehidupan machluk-machluk lainnya. Kerusakan bumi yang dikaibatkan oleh manusia di muka bumi ini akan menyakiti bumi sebgai Gaia dan akan menghancurkan dasar kehidupan manusia. Pencahayaan dan Warna
Pencahayaan dan pembayangan akan memengaruhi orientasi dalam ruang. Bagian ruang yang tersinari dan yang dalam keadaan gelap akan menentukan nilai psikis yang berhubungan dengan ruang, Cahaya matahari memberi kesan vital dalam ruang, terutama jika cahaya matahari masuk dari jendela yang orientasinya terhadap mata angin. Perpaduan antara cahaya, warna dan bayangan dapat menciptakan suasana yang mendukung kehidupan lewat kelenjar hormon, epiphisis dan hipothalamus yang semuanya terdapat simultan dari cahaya.
Di alam pencahayaan selalu berasal dari atas yaitu matahari. Pencahayaan mata hari di daerah tropis mengandung gejala sampingan dengan sinar panas, maka daerah tropis manusia menganggap ruang yang agak gelap sebagai kesejukan, akan tetapi untuk ruang kerja ketentuan tersebut melawan kebutuhan cahaya untuk mata manusia.
Berhubung pencahayaan buatan dengan bola lampu dan sebagainya mempegaruhi kesehatan manusia, maka dibutuhkan pencahayaan alam yang terang tanpa silau dan tanpa sinar panas. Untuk memenuhi tuntutan yang berlawanan ini maka sebaiknya sinar matahari tidak diterima langsung secara langsung melainkan dipantulkan terlebih dahulu ke dalam air kolam, lantai atau lewat langit-langit bangunan. Pencahayaan alam mengandung efek penyembuhan dan meningkatkan kretivitas manusia.
Kenyamanan dan kretivitas dapat juga dipengaruhi oleh warna. Oleh sebab itu warna adalah salah satu cara untuk memengaruhi ciri khas suatu ruang atau gedung. Badan manusia bereaksi sangat sensitif terhadap rangsangan dari masing-masing warna.Setiap warna memiliki frequensi tertentu, maka pengaruhnya atas badan manusia menjadi berbeda pula.
  • Warna ungu indigo memiliki frequensi tertinggi yaitu 750 Thz
  • Warna biru memiliki frequensi tertinggi yaitu 670 Thz
  • Warna hijau memiliki frequensi tertinggi yaitu 600 Thz
  • Warna kuning memiliki frequensi tertinggi yaitu 550 Thz
  • Warna oranye memiliki frequensi tertinggi yaitu 500 Thz
  • Warna merah memiliki frequensi tertinggi yaitu 430 Thz
Masing-masing warna memiliki ciri khusus yaitu sifat warna, sifat cahaya dan kejenuhan (intensitas sifat warna). Makin jenuh atau kurang bercahaya suatu warna akan makin bergairah, sebaliknya hawa nafsu dapat ditingkatkan dengan penambahan cahaya.
Alat vital manusia juga memiliki warna : Jantung (hijau) ; solarplexus (kuning); lambung (orange); ari-ari (merah); pangkal tenggorok (biru mudah); kemaluan (indigo); ujung atas kepala (ungu). Warna juga memiliki arti antara lain :
  • Warna kuning artinya penolak rasa mengantuk
  • Warna biru artinya penolak rasa sakit/ penyakit
  • Warna Hitam artinya penolak rasa lapar
  • Warna Hijau artinya penolak rasa angkara murka (marah)
  • Warna putih artinya penolak rasa birahi.
  • Warna orange artinya penolak rasa takut
  • Warna merah artinya penolak rasa tenteram
  • Warna ungu artinya penolak rasa jahat.
Pada praktek sehari-hari warna juga dapat dimanfaatkan untuk mengubah atau memperbaiki proporsi ruang secara visual demi peningaktan kenyamanan.
  • Langit-langit rumah yang terlalu tinggi dapat diturunkan dengan memberi warna hangat dan agak gelap.
  • Langit-langit yang agak rendah diberi warna putih atau cerah dan diikuti 20 cm dari dinding bagian paling atas diberi warna putih yang memberi kesan langit-langit seakan-akan melayang dengan suasana yang sejuk.
  • Warna aktif seperti merah, orange pada bidang yang luas memberi kesan memperkecil ruang.
  • Ruang yang agak sempit panjang dapat berkesan pendek dengan memberi warna hangat pada dinding bagian muka, sedang untuk berkesan luas diberi warna dingin seperti warna putih.
  • Dinding tidak seharusnya dari lantai diberi warna yang sama, jika dinding bergaris horizontal ruang berkesan terlindung, sedang vertikal berkesan lebih tinggi.
Sebagai suatu kesimpulan dapat ditentukan bahwa keseragaman yang menoton adalah racun keindahan/ kenyamanan.

Kota Hijau Atau Kota Hemat Energi? Solusi Terhadap Global Warming


Global Warming (Pemanasan global) adalah permasalahan yang sedang kita hadapi di dunia saat ini. Dampaknya memberikan efek yang negatif pada bumi, dengan mulai mencairnya es di Kutub Utara, punahnya species hewan dan tumbuhan, juga berakibat pada memburuknya kesehatan manusia. Salah satu penyebabnya adalah pembakaran BBM (Bahan Bakar Minyak) yang merupakan konsumsi terbesar umat manusia di dunia yang dapat mengemisi CO2 dan memicu pemanasan bumi. Penggunaan BBM memang belum bisa tergantikan karena belum siapnya energi alternatif, sementara persediannya mulai menipis dan harganya yang melonjak tinggi.
Dari sekian banyak penggunaannya di seluruh belahan dunia, sebuah kota besar paling banyak konsumsinya dibandingkan dengan wilayah / daerah lain seperti pedesaan, suburbs dll. Bila dipersentasikan, kota memakan lebih dari 70 % energi. Saat ini memang di setiap perkotaan, masyarakatnya mulai disadarkan untuk peduli lingkungan. Sering kita dengar, seperti GO Green, Green City, Green Concept, Green Living, Green Development dan banyak slogan lainnya. Banyak juga diadakan event – event seperti tanam sejuta pohon, green concert, pembagian bibit tanaman gratis dll. Semuanya menyuarakan agar menjaga lingkungan kota tetap hijau.
Walaupun pada prakteknya akan ditemui berbagai kesulitan / hambatan karena banyaknya kepentingan dari berbagai pihak terutama dari sisi komersialitas. Banyak dibangunnya Apartemen, Office, Mal dan pusat perbelanjaan lainnya menunjukkan bahwa porsi hijau yang kita gembor - gemborkan itu tidak sebanding dengan hutan – hutan beton yang terus berdiri setiap tahunnya. Seharusnya, area hijau memiliki tempat yang lebih banyak dalam sebuah kota. Karena hanya pepohonan & tanaman hijau lah yang dapat mengurangi pembakaran BBM atau emisi CO2 di udara.
Dari uraian di atas mungkin dapat sedikit disimpulkan, kita belum bisa membentuk sebuah kota hijau untuk mengatasi global warming. Kita perlu memandang permasalahan tersebut dari sisi yang lain; Seperti dengan menghemat energi BBM ataupun menciptakan energi alternatif. Sehingga mengurangi pembakaran BBM di udara karena minimalnya penggunaan dan lebih menggunakan bahan bakar lain yang lebih ecofriendly atau bersahabat dengan lingkungan.
Jadi lebih tepat kita berusaha untuk membentuk sebuah kota hemat energi daripada sebuah kota hijau untuk mengatasi permasalahan global warming. Walaupun dalam kota hemat energi berupaya meminimalisasi penggunaan energi namun tidak akan mengganggu atau tetap bisa untuk penyelenggaraan aktifitas warga kota. Dalam setiap bagiannya dari sebuah kota, bisa kita ambil beberapa konsep atau strategi untuk membentuk kota hemat energi. Sebuah kota dibagi ke dalam sub - sub seperti warga kota itu sendiri, hunian / rumah tinggal, fasilitas perkotaan (sekolah, rumah sakit, kantor, bangunan publik dll.), transportasi atau akses dan ruang terbuka hijau. Untuk menciptakan konsep kota hemat energi maka perlu dijabarkan dan ditelusuri dari sub – sub kota tersebut di atas.
Pertama, hunian / tempat tinggal / perumahan; ada 3 aspek yang bisa kita ambil, yaitu : Akses masuk ke dalam perumahan. Fenomena yang sekarang terjadi di Indonesia, akses tersebut terlalu jauh ke dalam sehingga warganya harus menggunakan kendaraan bermotor yang tentunya pemborosan BBM sementara itu juga tidak adanya jalur pedestrian yang berselasar / beratap, sehingga warganya lebih memilih untuk menggunaan kendaraan umum. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan kembali dengan membuat akses yang lebih dekat ke dalam perumahan terutama perlu dipikirkan kembali bagi pemerintah maupun pengembang swasta yang membangun perumahan.
Aspek kedua, Orientasi bangunan perumahan. Kondisi perumahan yang ada sekarang, orientasi tidak terlalu diperhatikan. Dengan memperhatikan orientasi bangunan maka akan memaksimalkan perolehan sinar matahari ke dalam rumah dan akan lebih hemat energi karena tidak diperlukan cahaya lampu / listrik di siang hari. Yaitu dengan menghadapkan bangunan ke arah selatan, ruang utama menghadap selatan sementara ruang pendukung menghadap utara.
Aspek ketiga adalah penataan bangunan. Perencanaan yang baik dalam sebuah kompleks perumahan sangatlah diperlukan. Warga tidak perlu menggunakan kendaraan hanya untuk membeli kebutuhan rumah yang sangat jauh jaraknya. Oleh karena itu perlu dibuat fasilitas komersial ataupun toko yang jaraknya dekat dengan rumah yang memungkinkan untuk penghuninya berjalan kaki menuju ke sana.
Kedua, Fasilitas perkotaan yang berupa bangunan juga perlu diperhatikan agar dapat menghemat energi yaitu dengan membuat rancangan pasif dengan memperhatikan aspek – aspek sebagai berikut : orientasi bangunan utara – selatan, memanfaatkan cahaya matahari tidak langsung bagi penerangan ruang dalam bangunan, meminimalkan radiasi panas / cahaya matahari langsung dari plafon maupun dari luar bangunan, meminimalkan penggunaan elemen kaca pada bangunan tinggi, mengoptimalkan ventilasi silang (meminimkan penggunaan AC), mengurangi pelapisan permukaan tanah dengan material keras (aspal, beton, dsb.) untuk mengurangi pemanasan lingkungan sekitar bangunan dan beberapa aspek lainnya.
Bangunan hemat energi juga harus didesain sesuai dengan iklim lingkungan setempat, karena dari contoh yang sudah ada, banyak bangunan – bangunan di Indonesia yang banyak menggunakan elemen kaca yang sebenarnya sangat tidak cocok dengan iklim tropis dan dapat mengakibatkan efek rumah kaca yang juga salah satu faktor penyebab global warming. Selain itu, perlu juga disosialisasikan untuk bangunan – bangunan yang menggunakan energi alternatif / energi yang bisa diperbaharui seperti sel surya / cahaya matahari, energi angin atau energi biofuel.
Beberapa fasilitas penunjang dalam sebuah bangunan juga bisa dijadikan aspek hemat energi, seperti pemakaian lampu, eskalator, ataupun lift. Dengan teknologi saat ini, dapat memungkinkan untuk berhemat energi karena adanya sistem canggih yang mapu membuatnya menjadi otomatis. Sehingga akan bisa hidup atau hanya bisa dipakai bila ada sensor manusia yang berada di dalam atau yang sedang beraktifitas di dalam bangunan. Bila tidak terpakai, sistem tersebut akan otomatis mematikan penggunaannya.
Ruang Terbuka Kota PDF Print E-mail
Written by Djefry W. Dana   
Tuesday, 09 February 2010 17:17
InsulindeparkBandung, yang dahulu dikenal akan kesejukannya, terletak pada dataran tinggi yang subur berkontur dan dikelilingi oleh bukit serta pegunungan. Dengan kondisi alam yang demikian, maka tak heran dapat tumbuh beraneka-ragam tanaman, seperti yang terlihat di tepi kiri kanan jalan maupun ruang-ruang terbuka kota. Pada umumnya, suatu lingkungan yang ruang terbuka, dirancang dengan menggunakan kaidah-kaidah estetika dan memakai pola-pola geometris-simetris yang jelas, sehingga dapat membangkitkan kesan tertentu dalam benak seseorang.
 
Bandung-khususnya Bandung Utara-bangunan, lahan, serta alamnya merupakan satu kesatuan desain yang tak dapat dipisahkan, demikian pendapat Ir. Slamet Wirasonjaya MLA, ("Kalau Bandung Gundul, Ia Brutal dan Tak Manusiawi", Pikiran Rakyat, Bandung, 11 Februari 1989) seorang arsitekperancang kota mengenai konsep rancangan dan gaya yang mengikutsertakan pepohonan dan ruang terbuka ke dalam perancangan suatu kota. Ditambahkannya pula bahwa konsep perancangan Kota Bandung yang mengagumkan tersebut sangat geometris, formalistik, dan berorientasi ke alam-yang awalnya lahir dari konsep Renaisans, yang dipengaruhi juga oleh konsep-konsep Islam tentang ruang dan waktu. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa basil rancangan Kota Bandung (Bandung Utara), yang dibangun sebelum tahun 1950an, mencerminkan perpaduan antara konsep Islam, Renaisans Romantis, dan Awal Modern.
Ada beberapa bagian  wilayah atau lingkungan Kota Bandung yang dirancang menarik, menggunakan pola geometris-simetris, dengan dilengkapi penerapan kaidah-kaidah estetika yang menyebabkan pengamat dapat merasakan adanya kesan pengalaman ruang maupun visual, misalnya kesan kelegaan, ketegangan, harapan, maupun kesan lainnya.

Contoh lingkungan kota yang dirancang untuk dapat memberikan pengalaman ruang bagi pengamatnya tersebut antara lain adalah ruang-ruang terbuka pada lingkungan sekitar Jalan Lapangan Supratman, Taman Pramuka, lingkungan Jalan Malabar-Jalan Gatot Subroto, lingkungan Jalan Sultan Tirtayasa-Jalan Ir. H. Juanda, lingkungan Jalan Patrakomala-Jalan Ermawar. Rancangan tersebut memiliki ciri khas berupa jalan yang mengelilingi rancangan ruang terbuka tersebut, sehingga tercipta pola yang jelas dan mempunyai anti. Ruang terbuka kota, seperti taman yang dirancang dan ditata dengan baik serta ditanami berbagai macam bunga, pernah mengorbitkan Kota Bandung dengan berbagai julukan yang mengharumkan, seperti Bandung Kota Kembang maupun Paris-nya Pulau Jawa.

Di samping bangunan-bangunan yang dirancang secara menarik penuh sentuhan keindahan, dirancang pula pola kota dengan mempertimbangkan kaidah serta prinsip estetika yang baik, dilengkapi dengan elemen pelengkap kota-jalan, jembatan, pedestrian -maupun elemen penghias kota-patung, monumen, air mancur-yang dipadukan sedemikian rupa. Paduan ini sebenarnya mampu menjadikan ' Kota Bandung sebagai tempat untuk mendapatkan kenikmatan visual yang nyaman dan harmonis. Ruang-ruang terbuka tersebut tidak semuanya mempunyai fungsi yang sama. Ada yang dirancang dengan fungsi sebagai taman kota, yaitu yang ditumbuhi berbagai tanaman dan dilengkapi dengan alur jalan, kolam, lampu hias, serta bangku tempat duduk, seperti yang dapat kita jumpai di Taman Maluku, Taman Ganeca, Taman Merdeka, Taman Lalu-Lintas, dan Kebun Binatang (Taman Sari).

Taman Maluku (Molukken Park)
Taman yang mulai dibangun pada tahun 1919 ini terletak di . antara Jalan Aceh, Jalan Maluku, dan Jalan Seram. Dilengkapi dengan sebuah kolam dan sungai kecil, patung, jalan-jalan setapak, bangku-bangku taman, ditambah rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sana-antara lain pohon ki angsret
(Spathodea campanulata) dan bungur (Lagerstroemia speciosa)-membuat suasana dalam taman dan lingkungan sekitarnya terasa sejuk dan nyaman.


Taman Ganeca
Taman Ganeca dibangun pada tahun 1919 untuk mengenang jasa scorang tokoh pendiri ITB, Dr. Ir. J. W. Ijzerman, sehingga dahulu dinamai "Ijzerman Park". Taman yang berbentuk oval dan dirancang serba simetris ini terasa sangat menyatu dengan kampus ITB yang berada di depannya. Dilengkapi dengan tangga-tangga pada bagian kiri kanannya, juga bangku-bangku serta koleksi beragam pohon-antara lain bunga terompet oranye, bugenvil, pohon kelapa gading, dan angsana-taman ini mampu menciptakan suasana sejuk, segar, dan tenang. Taman Ganeca pernah mengalami beberapa kali perbaikan, namun keindahan rancangan awal taman ini hingga kini masih dapat dirasakan. Konon, pada saat Kota Bandung masih lengang, dan belum banyak gedung-gedung tinggi didirikan, dari pelataran atas taman yang berbentuk lengkung tersebut kita dapat menyaksikan keindahan untaian gunung-gunung yang membentang dari timur, selatan, ke barat, mengelilingi Kota Bandung. Saat ini, lingkungan Taman Ganeca dikenal sebagai tempat wisata berkuda yang mempunyai rute mengitari Taman Ganeca dan sekitarnya. Karena lokasinya yang berdekatan dengan Kebun Binatang, pada hari-hari libur taman ini selalu ramai dikunjungi para warga kota yang ingin menikmati segarnya alam terbuka.

Taman Lalu Lintas

Taman Lalu-Lintas, yang dahulu dikenal sebagai "Insulinde Park", terletak di antara Jalan Aceh, Jalan Kalimantan, dan Jalan Sumatera. Taman ini dapat dikatakan sebagai taman kota yang bersifat rekreatif-edukatif untuk seluruh keluarga.
Koleksi pepohonan yang nampaknya sudah cukup' umur, antara lain pohon kenari, ki hujan, ki angsret, angsana, dan palem raja-yang menyebar menaungi seluruh taman dan jalan-jalan di sekitarnya-menjadikan lingkungan Taman Lalu-Lintas ini terasa sejuk. Berbagai sarana rekreasi yang ditujukan untuk anak yang ada di sana menyebabkan manfaat ruang terbuka ini semakin terasa. Bentuk tamannya sendiri sebenarnya sederhana saja, namun kehadirannya di tengah kota mampu meredam panasnya terik matahari maupun hiruk-pikuk dan semrawutnya kegiatan di dalam kota.


Taman Merdeka (Pieter's Park)
Taman Merdeka merupakan taman yang pertama dibangun di Kota Bandung pada tahun 1885, untuk mengenang Pieter Sijthof, asisten residen Bandung, yang juga dianggap berjasa dalam pembangunan Kota Bandung pada masa itu. Taman
yang terletak di depan Gedung Balai Kotamadya Bandung ini seolah-olah melengkapi dan menunjang keberadaan serta penampilan kompleks Balai Kota tersebut. Taman Merdeka juga dilengkapi dengan sebuah gazebo, patung badak putih, alur jalan kaki, bangku-bangku taman, lampu-lampu hias, serta sekumpulan pepohonan yang rindang seperti ki hujan (Saman easamman), ki angsret, johar, damar (Agathis alba), bubundelan (Cassia fistula), tanjung (Mimusops elengt), bungur, dan cemara laut (Casuarina). Kehadiran taman ini beserta pohon-pohon tersebut di daerah pusat pemerintahan Kotamadya Bandung, dirasakan dapat memperhalus suasana visual lingkungan sekitarnya.

Kebun Binatang (Taman Sari)
Dibangun pada tahun 1931, dahulu Taman Sari merupakan taman yang dapat mencerminkan taman-tropis khas Indonesia. Dengan memanfaatkan lahan yang berkgtur serta rancangan taman yang disesuaikan dengan kgdisi fisik alamnya, serta ditumbuhi berbagai pohon pelindung maupun tanaman-tanaman lainnya, taman ini mampu menciptakan suasana yang sejuk, asri, apik din alami. Taman yang terletak di sebelah barat kampus ITB ini, sekarang sebagian lahannya digunakan untuk Kebun Binatang dan Pusat Reaktor Atom Bandung. Apabila melintasi Jalan Taman Sari, kita masih dapat .merasakan kenyamanan dan kesejukan lingkungannya yang sesekali ditingkahi derik, lengking serangga, maupun binatang kecil lainnya.

Selain bentuk taman seperti di atas, ada pula ruang terbuka yang dirancang berupa lapangan rumput dengan atau tanpa pohon pelindung di tepinya. Biasanya, ruang terbuka ini terletak pada daerah permukiman dan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti olahraga, pramuka, dan arena bermain. Ruang terbuka seperti ini dapat kita temui di Taman Pramuka, Taman Supratman, Lapangan Titimplik, Lapangan Gazibu, Alun-alun, Tegallega, Lapangan Saparua, dan beberapa lapangan lainnya. Ruang terbuka yang dapat juga dirancang sebagai jalur hijau-kota, umumnya berbentuk memanjang dengan sungai kecil di tengahnya dan ditumbuhi tanaman-tanaman besar pada kedua sisinya, sehingga tercipta suasana teduh dan nyaman. Suasana demikian masih dapat kita nikmati di Taman Cilaki dan Taman Cibeunying, yang memanjang liner serta ditumbuhi dengan pohon-pohon besar.
 
Sumber: Ciri Perancangan Kota Bandung oleh Djefry W. Dana