 Bandung,
yang dahulu dikenal akan kesejukannya, terletak pada dataran tinggi
yang subur berkontur dan dikelilingi oleh bukit serta pegunungan. Dengan
kondisi alam yang demikian, maka tak heran dapat tumbuh beraneka-ragam
tanaman, seperti yang terlihat di tepi kiri kanan jalan maupun
ruang-ruang terbuka kota. Pada umumnya, suatu lingkungan yang ruang
terbuka, dirancang dengan menggunakan kaidah-kaidah estetika dan memakai
pola-pola geometris-simetris yang jelas, sehingga dapat membangkitkan
kesan tertentu dalam benak seseorang.
Bandung-khususnya
Bandung Utara-bangunan, lahan, serta alamnya merupakan satu kesatuan
desain yang tak dapat dipisahkan, demikian pendapat Ir. Slamet
Wirasonjaya MLA, ("Kalau Bandung Gundul, Ia Brutal dan Tak Manusiawi",
Pikiran Rakyat, Bandung, 11 Februari 1989) seorang arsitekperancang
kota mengenai konsep rancangan dan gaya yang mengikutsertakan pepohonan
dan ruang terbuka ke dalam perancangan suatu kota. Ditambahkannya pula
bahwa konsep perancangan Kota Bandung yang mengagumkan tersebut sangat
geometris, formalistik, dan berorientasi ke alam-yang awalnya lahir
dari konsep Renaisans, yang dipengaruhi juga oleh konsep-konsep Islam
tentang ruang dan waktu. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa basil
rancangan Kota Bandung (Bandung Utara), yang dibangun sebelum tahun
1950an, mencerminkan perpaduan antara konsep Islam, Renaisans Romantis,
dan Awal Modern.
Ada beberapa bagian wilayah atau lingkungan Kota
Bandung yang dirancang menarik, menggunakan pola geometris-simetris,
dengan dilengkapi penerapan kaidah-kaidah estetika yang menyebabkan
pengamat dapat merasakan adanya kesan pengalaman ruang maupun visual,
misalnya kesan kelegaan, ketegangan, harapan, maupun kesan lainnya.
Contoh
lingkungan kota yang dirancang untuk dapat memberikan pengalaman ruang
bagi pengamatnya tersebut antara lain adalah ruang-ruang terbuka pada
lingkungan sekitar Jalan Lapangan Supratman, Taman Pramuka, lingkungan
Jalan Malabar-Jalan Gatot Subroto, lingkungan Jalan Sultan
Tirtayasa-Jalan Ir. H. Juanda, lingkungan Jalan Patrakomala-Jalan
Ermawar. Rancangan tersebut memiliki ciri khas berupa jalan yang
mengelilingi rancangan ruang terbuka tersebut, sehingga tercipta pola
yang jelas dan mempunyai anti. Ruang terbuka kota, seperti taman yang
dirancang dan ditata dengan baik serta ditanami berbagai macam bunga,
pernah mengorbitkan Kota Bandung dengan berbagai julukan yang
mengharumkan, seperti Bandung Kota Kembang maupun Paris-nya Pulau Jawa.
Di
samping bangunan-bangunan yang dirancang secara menarik penuh sentuhan
keindahan, dirancang pula pola kota dengan mempertimbangkan kaidah serta
prinsip estetika yang baik, dilengkapi dengan elemen pelengkap
kota-jalan, jembatan, pedestrian -maupun elemen penghias kota-patung,
monumen, air mancur-yang dipadukan sedemikian rupa. Paduan ini
sebenarnya mampu menjadikan ' Kota Bandung sebagai tempat untuk
mendapatkan kenikmatan visual yang nyaman dan harmonis. Ruang-ruang
terbuka tersebut tidak semuanya mempunyai fungsi yang sama. Ada yang
dirancang dengan fungsi sebagai taman kota, yaitu yang ditumbuhi
berbagai tanaman dan dilengkapi dengan alur jalan, kolam, lampu hias,
serta bangku tempat duduk, seperti yang dapat kita jumpai di Taman
Maluku, Taman Ganeca, Taman Merdeka, Taman Lalu-Lintas, dan Kebun
Binatang (Taman Sari).
Taman Maluku (Molukken Park) Taman
yang mulai dibangun pada tahun 1919 ini terletak di . antara Jalan
Aceh, Jalan Maluku, dan Jalan Seram. Dilengkapi dengan sebuah kolam dan
sungai kecil, patung, jalan-jalan setapak, bangku-bangku taman, ditambah
rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sana-antara lain pohon ki angsret (Spathodea
campanulata) dan bungur (Lagerstroemia speciosa)-membuat suasana dalam
taman dan lingkungan sekitarnya terasa sejuk dan nyaman.
Taman Ganeca Taman
Ganeca dibangun pada tahun 1919 untuk mengenang jasa scorang tokoh
pendiri ITB, Dr. Ir. J. W. Ijzerman, sehingga dahulu dinamai "Ijzerman
Park". Taman yang berbentuk oval dan dirancang serba simetris ini terasa
sangat menyatu dengan kampus ITB yang berada di depannya. Dilengkapi
dengan tangga-tangga pada bagian kiri kanannya, juga bangku-bangku serta
koleksi beragam pohon-antara lain bunga terompet oranye, bugenvil,
pohon kelapa gading, dan angsana-taman ini mampu menciptakan suasana
sejuk, segar, dan tenang. Taman Ganeca pernah mengalami beberapa kali
perbaikan, namun keindahan rancangan awal taman ini hingga kini masih
dapat dirasakan. Konon, pada saat Kota Bandung masih lengang, dan belum
banyak gedung-gedung tinggi didirikan, dari pelataran atas taman yang
berbentuk lengkung tersebut kita dapat menyaksikan keindahan untaian
gunung-gunung yang membentang dari timur, selatan, ke barat,
mengelilingi Kota Bandung. Saat ini, lingkungan Taman Ganeca dikenal
sebagai tempat wisata berkuda yang mempunyai rute mengitari Taman Ganeca
dan sekitarnya. Karena lokasinya yang berdekatan dengan Kebun Binatang,
pada hari-hari libur taman ini selalu ramai dikunjungi para warga kota
yang ingin menikmati segarnya alam terbuka.
Taman Lalu Lintas Taman
Lalu-Lintas, yang dahulu dikenal sebagai "Insulinde Park", terletak di
antara Jalan Aceh, Jalan Kalimantan, dan Jalan Sumatera. Taman ini dapat
dikatakan sebagai taman kota yang bersifat rekreatif-edukatif untuk
seluruh keluarga. Koleksi pepohonan yang nampaknya sudah cukup' umur,
antara lain pohon kenari, ki hujan, ki angsret, angsana, dan palem
raja-yang menyebar menaungi seluruh taman dan jalan-jalan di
sekitarnya-menjadikan lingkungan Taman Lalu-Lintas ini terasa sejuk.
Berbagai sarana rekreasi yang ditujukan untuk anak yang ada di sana
menyebabkan manfaat ruang terbuka ini semakin terasa. Bentuk tamannya
sendiri sebenarnya sederhana saja, namun kehadirannya di tengah kota
mampu meredam panasnya terik matahari maupun hiruk-pikuk dan semrawutnya
kegiatan di dalam kota.
Taman Merdeka (Pieter's Park) Taman
Merdeka merupakan taman yang pertama dibangun di Kota Bandung pada
tahun 1885, untuk mengenang Pieter Sijthof, asisten residen Bandung,
yang juga dianggap berjasa dalam pembangunan Kota Bandung pada masa itu.
Taman yang terletak di depan Gedung Balai Kotamadya Bandung ini
seolah-olah melengkapi dan menunjang keberadaan serta penampilan
kompleks Balai Kota tersebut. Taman Merdeka juga dilengkapi dengan
sebuah gazebo, patung badak putih, alur jalan kaki, bangku-bangku taman,
lampu-lampu hias, serta sekumpulan pepohonan yang rindang seperti ki
hujan (Saman easamman), ki angsret, johar, damar (Agathis alba),
bubundelan (Cassia fistula), tanjung (Mimusops elengt), bungur, dan
cemara laut (Casuarina). Kehadiran taman ini beserta pohon-pohon
tersebut di daerah pusat pemerintahan Kotamadya Bandung, dirasakan dapat
memperhalus suasana visual lingkungan sekitarnya.
Kebun Binatang (Taman Sari) Dibangun
pada tahun 1931, dahulu Taman Sari merupakan taman yang dapat
mencerminkan taman-tropis khas Indonesia. Dengan memanfaatkan lahan yang
berkgtur serta rancangan taman yang disesuaikan dengan kgdisi fisik
alamnya, serta ditumbuhi berbagai pohon pelindung maupun tanaman-tanaman
lainnya, taman ini mampu menciptakan suasana yang sejuk, asri, apik din
alami. Taman yang terletak di sebelah barat kampus ITB ini, sekarang
sebagian lahannya digunakan untuk Kebun Binatang dan Pusat Reaktor Atom
Bandung. Apabila melintasi Jalan Taman Sari, kita masih dapat .merasakan
kenyamanan dan kesejukan lingkungannya yang sesekali ditingkahi derik,
lengking serangga, maupun binatang kecil lainnya.
Selain bentuk
taman seperti di atas, ada pula ruang terbuka yang dirancang berupa
lapangan rumput dengan atau tanpa pohon pelindung di tepinya. Biasanya,
ruang terbuka ini terletak pada daerah permukiman dan dapat digunakan
untuk berbagai kegiatan, seperti olahraga, pramuka, dan arena bermain.
Ruang terbuka seperti ini dapat kita temui di Taman Pramuka, Taman
Supratman, Lapangan Titimplik, Lapangan Gazibu, Alun-alun, Tegallega,
Lapangan Saparua, dan beberapa lapangan lainnya. Ruang terbuka yang
dapat juga dirancang sebagai jalur hijau-kota, umumnya berbentuk
memanjang dengan sungai kecil di tengahnya dan ditumbuhi tanaman-tanaman
besar pada kedua sisinya, sehingga tercipta suasana teduh dan nyaman.
Suasana demikian masih dapat kita nikmati di Taman Cilaki dan Taman
Cibeunying, yang memanjang liner serta ditumbuhi dengan pohon-pohon
besar.
Sumber: Ciri Perancangan Kota Bandung oleh Djefry W. Dana
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar